Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 14, 2017

BERTASBIHLAH UNTUK MEMUJI ALLAH

Semua topik keimanan yang kita bahas hingga kini membutuhkan
kepasrahan diri kepada Allah, dalam hidup dan berjuang karena-Nya.
Pengabdian ini tidak dapat kita capai kecuali memiliki kedekatan dengan
Allah dan jalan untuk khusyuk, melalui “mengingat dan kembali kepada-Nya”.
Orang-orang beriman itu seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur`an, “Dan bertasbihlah
kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (al-Ahzab: 42) Inilah yang akan menjadikan orang
yang beriman menjadi “hamba Allah” seperti layaknya Nabi Ibrahim a.s..

BERTASBIHLAH UNTUK MEMUJI ALLAH


Orang-orang beriman harus bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan-Nya
dan memohon ampunan Allah atas perbuatan zalim diri mereka. Selanjutnya, mereka
harus meminta kepada Allah untuk semua yang mereka butuhkan serta memuji-Nya siang dan malam.

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf: 205)

Dalam ayat lain, “Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar 
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain)” (al-‘Ankabuut: 45)

Tanpa menghadirkan Allah, semua shalat akan kehilangan nilainya. JIka shalat
ini tidak ditujukan untuk mengingat Allah dan mencari ridha-Nya, mereka tidak
mendapatkan upah. Ketika Al-Qur`an memberitahukan sifat-sifat para nabi, ditekankan betapa mereka selalu taat kepada Alah. Dalam ayat ke-30 surah Shaad, Allah berfirman,
“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada Tuhannya).” Kepada Ayyub, a.s. Allah berkata, “ Sesungguhnya, Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shaad: 44)



Selasa, September 12, 2017

Keajaiban Dalam Bersedekah

Seorang ulama berkata, "Tidaklah seseorang yang telah mati itu menyebut untuk bersedekah melainkan kerana kehebatan pahala yang telah dilihatnya selepas kematiannya."
Keajaiban Dalam Bersedekah

Maka hendaklah kamu perbanyak sedekah kerana sesungguhnya seorang mukmin akan berada di bawah naungan pahala sedekahnya pada hari kiamat nanti.

Bersedekahlah untuk saudara yang telah meninggal dunia kerana sesungguhnya mereka amat berharap untuk kembali ke dunia untuk bersedekah dan melakukan amalan soleh.

Oleh kerana itu realisasikanlah harapan mereka. Dan latihlah anak-anak kita supaya membiasakan diri dengan bersedekah.

Bersedekahlah. Sesungguhnya Allah memberi ganjaran kepada orang yang bersedekah.

Adakah anda pernah membaca tentang faedah bersedekah?

1. Amalan sedekah itu adalah salah satu pintu dari pintu-pintu syurga.

2. Sedekah adalah sebaik-baik amalan soleh dan sebaik-baik sedekah ialah memberi makan.

3. Pahala sedekah akan menaungi pemiliknya pada hari kiamat dan melepaskannya dari azab neraka.

4. Sedekah boleh memadamkan kemurkaan Allah dan panasnya kubur.

5. Sedekah adalah sebaik-baik hadiah buat si mati, yang paling bermanfaat untuknya di kuburan dan yang ditambah oleh Allah akan rezeki (kerana bersedekah).

6. Sedekah adalah satu penyucian harta dan jiwa dapat menggandakan kebaikan.

7. Sedekah adalah puncak kegembiraan si pemberi dan puncak wajahnya bercahaya di hari kiamat.

8. Sedekah menjadi pengaman dari ketakutan pada hari huru hara besar dan hari yang tiada kesedihan kerana kehilangan sesuatu darinya (hari kiamat).

9. Sedekah menjadi puncak keampunan terhadap dosa dan penghapusan dari kejahatan.

10. Sebagai pembawa berita gembira tentang akhir yang baik dan puncak doa malaikat buatnya.

11. Orang yang bersedekah adalah orang yang terbaik di kalangan manusia.

12. Pahala sedekah juga adalah untuk semua yang berkongsi tentang sedekah itu (bukan hanya untuk si pemberi).

13. Pemberi sedekah dijanjikan kebaikan yang banyak dan pahala yang besar.

14. Orang yang suka berinfak adalah salah satu sifat orang yang bertaqwa.

15. Dan sedekah menjadi puncak lahirnya kasih sayang hamba Allah kepada si pemberi.

16. Sedekah tanda dermawan dan salah satu tanda kemuliaan dan kemurahan hati.

17. Bersedekah memustajabkan doa dan menyelesaikan segala kesulitan.

18. Bersedekah menolak bala dan menutup 70 kejahatan di dunia.

19. Sedekah memanjangkan umur, menambah rezeki, menjadi puncak rezeki dan kemenangan.

20. Sedekah menjadi ubat, penawar dan penyembuh.

21. Sedekah menghalang kebakaran, tenggelam akibat banjir dan kecurian.

22. Pahala sedekah adalah tetap (tidak berbeza-beza) walaupun diberikan kepada haiwan ternakan atau burung-burung. []

Sumber: Kitab Ziarah ke Alam Barzakh (Al Imam Jalaluddin As-Suyuti)

*sumber islamps.com



Senin, September 01, 2014

Keutamaan Dan Manfaat Bersiwak Menurut Hadist

Keutamaan dan manfaat Bersiwak Menurut Hadist - Bersiwak berarti menggosok gigi dengan menggunakan benda yang kesan dan harum. Baginda Rasulullah SAW sangat gemar bersiwak baik pada saat berpuasa atau tidak, ketika berwudhu atau ketika hendak shalat. Tak lupa juga beliau melakukannya kala hendak masuk rumah menjumpai istrinya.

Keutamaan-Bersiwak-Menurut-Hadist

Bersiwak memiliki banyak keutamaan / manfaat diantaranya mengharumkan mulut, menguatkan gusi, menghilangkan penyakit, dan menambah rajin membaca.

Hadits pendukung Dalam Bersiwak

Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya :

Manfaat-Kayu-Siwak

 عن عائشة رضى الله ان النبي صلى الله عليه وسلم قال : السواك مطهرللفم مرضاة للرب {رواه البيهقي والنسائى}

 Artinya : Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersasbda “ bersiwak itu dapat membersihkan mulut dan menghasilkan keridhaan Allah “. – HR Baihaqi dan Nasa’i

 عن ابى هريرة رضى الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : لولا ان اشق على امتي لأمرتهم بالسواك مع كل وضوء {احرجه مالك واحمدوالنسائى}

 Artinya : Dari Abu Hurairah RA bahwasanya rasulullah SAW bersabda : Sekiranya tidak akan memberi kesukaran dan kesulitan pada ummatku, tentu akan kuperintahkan mereka bersiwak pada setiap wudhu. – HR Malik, Ahmad, dan Nasa’i.

Hadits diatas memberi penjelasan bahwa bersiwak masnunah (disunatkan) dalam segala hal kecuali pada saat berpuasa, karena bau mulut orang yang berpuasa dikatakan Rasulullah SAW lebih harum dibandingkan dengan minyak kasturi, Sesuai dengan Sabdanya :

 عن ابى هريرة رضى الله عن النبى صلى الله عليه وسلم لخلوف فم الصائم اطيب عند الله من ريح المسك {رواه البخارى ومسلم}

Artinya :Dari Abu Hurairah RA, Dari Nabi SAW : bahwasanya bau mulut orang yang sedang berpuasa itu pada sisi Allah lebih harum dibandingkan dengan minyak kasturi – HR Bukhari dan Muslim

 ركعتان بالسواك افضل من سبعين ركعة بلا سواك {رواه ابو نعيم}

Artinya : Dua rakaat shalat yang dikerjekan dengan bersiwak, lebih utama dari tujuh puluh rakaat yang dikerjakan tanpa bersiwak. – HR Abu Naim

10 Keutamaan Mengerjakan Sunnah Bersiwak

Pertama, dapat membersihkan mulut. Bersiwak, yang saat ini lebih masyhur disebut dengan sikat gigi jelas dapat membersihkan mulut. Tak hanya membersihkan mulut, menyikat gigi secara rutin dan benar juga mempengaruhi kesehatan gigi dan gusi.

Kedua, membuat Allah ridho. Tak diragukan lagi, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang yang membersihkan diri. Berwudhu, mandi, bahkan menyikat gigi ialah kegiatan yang ditujukan demi bersih dan sucinya anggota tubuh. Tiada hal yang dapat menghalangi ridho Allah untuk seorang hamba yang berniat membersihkan diri dalam rangka beribadah dan dekat kepada-Nya.

Ketiga, membuat setan marah. Mengapa setan bisa marah jika kita menggosok gigi? Sebab setan tidak suka terhadap hal-hal yang bersih. Jika kita bersiwak, itu berarti kita membersihkan diri dan menghindari diri dari kekotoran. Karena setan lebih menyukai hal-hal yang kotor, ia murka terhadap hamba-hamba Allah yang senantiasa menerapkan hidup bersih dan sehat.

Keempat, dicintai Allah dan malaikat pencatat amal. Segala sesuatu yang diniatkan dari hati, pasti akan dicatat oleh Allah dan malaikat pencatat amal baik. Karena Allah amat mencintai kebersihan dan keindahan, tentu Allah juga mencintai hamba-hambaNya yang beristiqomah untuk menerapkan gaya hidup bersih dan sehat. Dengan menyikat gigi secara teratur demi terciptanya kesehatan jasmani, insya Allah perbuatan tersebut dinilai Allah sebagai ibadah.

Kelima, dapat menguatkan gusi. Rutinitas menggosok gigi, jika dilakukan secara benar tentu dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kekuatan gusi. Dalam ilmu kesehatan gigi, makanan yang kita konsumsi, setidaknya terdapat zat asam. Zat asam tersebut dapat mengikis email pada gigi. Dapat terbayangkan jika kita jarang menyikat gigi. Jangka panjangnya, email pada gigi tersebut dapat membentuk lubang-lubang mikro.

Keenam, dapat menghilangkan lendir (pada tenggorokan). Tenggorokan kita tidak 24 jam dalam keadaan bersih. Adakalanya lendir-lendir timbul dan membuat kesehatan mulut dan tenggorokan terganggu. Lendir itu pun akan timbul jika intensitas menyikat gigi kita sangat jarang. Oleh karenanya mengapa disunnahkan menyikat gigi sebelum shalat, fungsi utamanya ialah kesehatan dan kesegaran saluran pencernaan tetap terjaga.

Ketujuh, dapat menyegarkan napas. Selain bermanfaat untuk kesehatan gigi dan gusi, menyikat gigi juga dapat menyegarkan napas. Pada zaman Nabi SAW, siwak yang dipilih pun tentunya berkualitas. Meski tidak terdapat fluoride, kayu siwak yang Nabi gunakan sebelum beliau melaksanakan shalat mampu membersihkan gigi, gusi dan memberikan kesegaran pada napas.

Kedelapan, dapat membersihkan mulut dari cairan yang tidak berguna. Dalam mulut dan gigi kita tentu terdapat bakteri dan kuman jika jarang dibersihkan. Cairan yang tidak berguna, saat bercampur dengan lendir ditambah frekuensi menyikat gigi yang jarang, akan menyebabkan karies tumbuh di sela-sela gigi.

Kesembilan, dapat menguatkan pandangan mata. Jika kita menelaah kembali etika atau adab menuntut ilmu dalam kitab Ta’lim Muta’lim, kitab yang telah dipakai sebagai pegangan dalam menuntut ilmu menyebutkan bahwa bersiwak (menyikat gigi) secara rutin dan benar dapat menguatkan pandangan mata. Mengapa? Jika kesehatan mulut terjaga, penglihatan pun dapat bekerja secara maksimal. Ringkasnya, kesehatan gigi dan mulut mempengaruhi fungsi panca indera, termasuk mata.

Kesepuluh, dapat menghilangkan bau busuk di mulut. Menyikat gigi secara teratur dan benar tentu selain gigi, gusi dan pernapasan sehat, bau tak sedap di mulut pun akan berkurang. Sehingga, dalam kondisi berpuasa, tak perlu lagi merasa mulut kita mengeluarkan bau tak sedap. Puasa, jika diimbangi dengan keteraturan kita membersihkan gigi, tentu akan menghasilkan puasa yang maksimal.

NB: Namun ketika kita berpuasa, sebaiknya bersiwak atau menggosok gigi dilakukan sebelum solat Dzuhur. Sebagian Ulama berpendapat, bahwa bersiwak atau menggosok gigi setelah solat Dzuhur akan menimbulkan MAKRUH.

Rabu, Oktober 02, 2013

Shalat Sunnah Rawatib


Shalat Rawatib adalah shalat sunat yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat lima waktu. shalat yang dilakukan sebelumnya disebut salat qabliyah, sedangkan yang dilakukan sesudahnya disebut salat ba'diyah.

Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah shalat sunnah rawatib beserta letak-letaknya:

1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua rakaat setelah jumat.” dan dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi r mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

3. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:
a. 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
b. 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.
c. 2 rakaat setelah zuhur
d. 4 rakaat sebelum ashar
e. 2 rakaat setelah jumat.
f. 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
g. 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?
Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)
Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:
شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun shalat sunnah sebelum jumat, maka pendapat yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah mengenai tidak disyariatkannya shalat sunnah sebelum jumat akan datang pembahasannya tersendiri,
Wallahu Ta’ala a’lam.

Selasa, Juli 23, 2013

Pengetahuan Tentang Shalat Dhuha

shalat dhuha

Waktu Shalat dhuha
 
Telah terjadi perbedaan dikalangan fuqaha didalam batasan shalat dhuha secara umum. Jumhur ulama berpendapat bahwa waktu shalat dhuha dimulai dari ketika matahari mulai meninggi hingga sedikit sebelum tergelincir selama belum masuk waktu yang dilarang.
Imam Nawawi didalam ar Raudhah mengatakan, "Para sahabat kami (madzhab Syafii) berpendapat, waktu shalat dhuha berawal dari terbit matahari dan dianjurkan agar mengakhirkannya hingga ia meninggi.

Hal itu ditunjukkan oleh riwayat Imam Ahmad dari Abu Murrah ath Thoifi berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Taala berfirman, Wahai anak Adam, janganlah kalian lemah dari melaksanakan empat rakaat dari permulaan siangmu yang akan mencukupkanmu di akhir siangnya."

Namun al Adzrai berpendapat bahwa apa yang dinukil itu dari para sahabatnya (madzhab Syafii) itu tedapat catatan, yang terkenal dari pendapat pertama mereka yaitu pendapat jumhur (al Mausuah al Fiqhiyah juz II hal 9730)

Dengan demikian waktu shalat dhuha dimulai kira-kira sejak maahari mulai naik kira-kira sepenggalah hingga sedikit sebelum masuknya waktu zhuhur atau sekitar 15 menit setelah waktu syuruq hingga 15 menit sebelum masuk waktu zhuhur.

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Adapun tentang rakaatnya maka tidak ada perbedaan dikalangan fuqaha yang mengatakan sunnahnya shalat dhuha berpendapat bahwa paling sedikit rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat.

Diriwayatkan dari Abu Dzarr bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar maruf nahi munkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha."

Namun terjadi perbedaan dikalangan mereka tentang maksimal rakaatnya :

Para ulama Maliki dan Hambali berpendapat bahwa maksimal rakaat shalat dhuha adalah delapan rakaat berdasarkan riwayat Ummu Hani bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan Makkah, kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam shalat delapan rakaat" seraya menjelaskan, "Aku belum pernah sekalipun melihat Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau tetap menyempurnakan ruku dan sujudnya."

Para ulama Maliki ini juga menegaskan makruh melebihkan dari delapan rakaat jika seseorang meniatkan shalat dhuha bukan niat sunnah mutlak. Mereka juga menyebutkan bahwa yang paling moderat dari shalat dhuha adalah enam rakaat.

Sedangkan para ulama Hanafi dan Syafii pendapat yang marjuhserta Ahmad dalam satu riwayat darinyabahwa maksimal dari shalat dhuhah adalah dua belas rakaat, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan an NasaI dengan sanadnya yang didalamnya terdapat kelemahan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua belas rakaat maka Allah (akan) membangunkan baginya istana dari emas di surga. Ibnu Abidin menukil dari Syarh al Maniyah dan menegaskan bahwa hadits lemah bisa diamalkan didalam perkara-perkara keutamaan.

Al Hashkafi dari kalangan Hanafi menukil dari adz Dzakhair al Asyraqiyahmenyebutkan bahwa yang moderat adalah delapan rakaat dan inilah yang paling utama, berdasarkan perbuatan dan perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam sedangkan tentang maksimalnya hanyalah melalui perkataaan beliau shallallahu alaihi wasallam saja.

Adapun dikalangan para ulama Syafii telah terjadi perbedaan didalam berbagai ungkapan mereka tentang maksimal rakaat shalat dhuha. Imam Nawawi didalam al Minhaj menyebutkan bahwa maksimalnya adalah dua belas rakaat sementara dia menyalahinya didalam kitab Syarh al Muhadzab, dia menyebutkan dari kebanyakan ulama bahwa maksimal adalah delapan rakaat. Beliau menyebutkan juga didalam Raudhah ath Thalibinbahwa yang paling utama adalah delapan rakaat sedangkan maksimalnya adalah dua belas rakaat dengan mengucapkan salam di setiap dua rakaat.(al Mausuah al Fiqhiyah juz II hal 9730 9731)

Doa Khusus Pada Shalat Dhuha

Tidak ada doa-doa khusus pada shala dhuha. Dibolehkan bagi setiap muslim untuk berdoa dengan doa-doa yang dikehendakinya selama tidak ada dosa didalamnya dan memutuskan silaturahim baik doa-doa yang matsur dari Nabi shallallahu alaihi wasallam atau doa-doa yang mudah bagi dirinya. Akan tetapi doa yang matsur lebih utama jika ia hafal. (Markaz al Fatwa No. 65406)

Shalat Isyraq

Para ulama menyamakan antara shalat isyraq dengan shalat dhuha. Meksipun ada yang sedikit membedakan diantara keduanya yaitu jika shalat itu dikerjakan diawal waktu yaitu ketika matahari mulai terangkat kira-kira sepenggalah maka ia disebut shalat isyraq sedangkan jika dikerjakan di tengah-tengah atau akhir waktu maka ia disebut shalat dhuha.

Wallahu Alam

Sumber : eramuslim

Selasa, Juni 18, 2013

7 Golongan Yang Dilindungi Oleh Allah SWT Dari Panas Matahari di Padang Mahsyar

 Di hari akhir nanti, tepatnya pada saat kita semua dikumpulkan di padang Mahsyar, tidak ada lagi penolong bagi kita kecuali Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW. Kita semua tidak tahu bagaimana keadaan kita semua di sana nantinya, Dikatakan pula bahwa di padang Mahsyar jarak antara kita dengan matahari hanya “sejengkal”. Tidak bisa dibayangkan bukan, matahari yang sekarang berjarak ratusan juta kilometer saja kita sudah merasakan panas yang luar biasa, apalagi kalau sampai hanya satu jengkal, pasti luar biasa panasnya. Namun, sebagai seorang muslim kita jangan takut duluan terhadap hal itu, karena nantinya akan ada 7 golongan yang dilindungi oleh Allah SWT dari panas matahari yang luar biasa di Padang Mahsyar adalah golongan-golongan itu disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut :


“Ada 7 golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari itu, tidak ada naungan, kecuali nanungan Allah. Golongan tersebut adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mengasihi karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diundang oleh seorang perempuan yang berkedudukan dan berwajah elok (untuk melakukan kejahatan) tetapi dia berkata : (Aku takut kepada Allah), seorang yang memberi sedekah, tetapi dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga menetes air matanya.” (HR Bukhori)

Dari hadits di atas, berikut adalah penjelasan lebih lanjutnya :

  • Pemimpin yang adil
Pemimpin atau khalifah adalah seseorang yang diberi amanah dan tanggung jawab untuk mengurusi umat atau rakyatnya. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, karena kita harus memperhatikan dengan benar syariat Islam yang berhubungan dengan kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang baik, bukan pemimpin yang zalim. Hal yang selalu dituntut dari seorang pemimpin adalah keadilan. Bagaimana ia bisa berlaku adil terhadap kaum atau rakyatnya, sehingga semua rakyatnya dapat hidup dengan sejahtera, aman, dan tidak merasakan adanya ketidakadilan. Rasulullah SAW adalah seorang teladan yang sangat luar biasa sebagai khalifah, beliau dapat memimpin kaumnya dengan bijaksana dan penuh keadilan, itulah yang seharusnya di contoh oleh seorang pemimpin terutama di masa sekarang ini. Apabila seorang pemimpin dapat berlaku adil terhadap rakyatnya, maka Insya Allah, Allah akan memberikan naungan kepadanya di yaumul Akhir nanti. 
  • Pemuda Yang Senantiasa Beribadah Kepada Allah SWT
Masa muda adalah masa yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita kedepannya. Pada masa ini kita sudah harus bersiap merancang masa depan kita. Masa ini adalah masa di mana seseorang biasanya masih labil namun di masa inilah kita memiliki energi dan stamina yang bisa dibilang sangat fit dan penuh. Namun sangat disayangkan, sekarang ini anak-anak muda banyak yang melupakan jati diri mereka sebagai seorang makhluk ciptaan Allah SWT yang lemah dan tidak berdaya apa-apa tanpa-Nya. Anak muda banyak menghabiskan waktu mereka hanya untuk hal-hal duniawi yang tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan hanya menimbulkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah SWT. Padahal, seharusnya di masa ini kita harus memaksimalkan diri kita untuk beribadah kepada Allah SWT dengan energi pemuda yang fit itu karena tidak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah SWT. Pemuda seperti inilah yang akan mendapatkan naungan oleh Allah SWT.
  • Seseorang Yang Hatinya Terpaut Dengan Masjid-masjid
Masjid adalah Baitullah atau rumah Allah. Masjid merupakan tempat beribadah yang seharusnya menjadi tempat favorit kita dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Pada saat adzan berkumandang, hendaknya kita segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah karena banyak sekali hikmah di balik itu semua. Karena sesungguhnya shalat berjamaah di masjid merupakan sesuatu yang wajib bagi muslim laki-laki, sedangkan bagi muslim perempuan lebih utama shalat di rumah. Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa masjid adalah tempat ibadah yang hanya dijadikan tempat untuk shalat semata. Padahal masjid juga bisa dijadikan tempat yang lebih dari sekedar tempat ibadah. Ingat saja pada zaman Rasulullah SAW, masjid pada saat itu bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, tempat penyusunan strategi perang, sebagai tempat pengobatan, sebagai tempat tinggal dan bahkan sebagai penjara. Banyak sekali bukan manfaat dari masjid atau mushola. Oleh karena itu, hendaknya mulai sekarang kita membiasakan diri pergi ke masjid dan menjadikan masjid sebagai rumah kedua bagi kita, dengan begitu maka hati kita akan senantiasa merasa rindu dengan masjid-masjid.
  • Dua Orang Yang Saling Mengasihi Karena Allah SWT
Dua orang yang saling mengasihi karena Allah juga merupakan salah satu golongan yang mendapat naungan dari Allah SWT. Mereka saling mengasihi bukan karena kelebihan yang mereka miliki, namun mereka saling mengasihi karena Allah SWT. Mereka bertemu dan berpisah karena Allah SWT. Namun, sekarang banyak sekali orang yang mengasihi orang lain bukan karena Allah SWT, namun karena kecantikan atau ketampanannya, karena hartanya, atau karena kedudukannya. Hal ini adalah hal yang tidak dibenarkan dalam Islam. Kasih yang hakiki di dalam Islam adalah mengasihi karena Allah SWT.
  • Seorang Laki-laki Yang Menolak Ajakan Perempuan Untuk Berzina
Golongan yang satu ini mungkin adalah golongan yang paling langka dan jarang sekali di temukan, apalagi pada zaman sekarang ini. Bagaimana tidak, karena seorang wanita dapat membutakan mata hati seorang lelaki. Apabila ada seorang wanita yang cantik, kaya, dan memiliki kedudukan, lalu ia mengajak seorang lelaki untuk melakukan perbuatan yang dimurkai Allah SWT tetapi sang lelaki menolak, dan ia mengatakan aku takut kepada Allah SWT, maka lelaki ini adalah salah seorang yang akan di berikan naungan oleh Allah SWT di padang Mahsyar. Kisah ini dapat kita pelajari dari kisah Nabi Yusuf AS.
  • Seseorang Yang Bersedekah Secara Sembunyi-Sembunyi
Sedekah adalah amal yang sangat besar pahala dan manfaatnya. Allah SWT menjanjikan kepada kita semua bahwa apabila kita bersedekah satu kali, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali dari apa yang kita sedekahkan. Maka dari itu, orang yang bersedekah tidak akan jatuh miskin karena dengan bersedekah harta kita bukannya berkurang, namun justru terus bertambah. Namun, sedekah yang baik adalah diawali dengan niat yang baik pula, yaitu dengan mengharap ridho Allah, jangan dampai kita bersedekah hanya untuk dilihat oleh orang lain, dan memperlihatkan apa yang kita sedekahkan, karena hal itu sudah menyalahi syariat dan sedekahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sedekah yang paling baik adalah sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai diisyaratkan hingga tangan kiri kita tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanan kita.
  • Seseorang Yang Berdzikir Kepada Allah Hingga Menangis
Golongan terakhir yang akan mendapat naungan Allah SWT adalah orang yang senantiasa berdzikir menyebut namanya di kala sendiri hingga meneteskan air mata. Ia menyadari betul akan kebesaran Allah SWT dan mengingat dosa-dosa yang telah dilakukannya. Ia berdzikir dengan ikhlas dan penuh harap kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berdzikir mengingat Allah SWT dan menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada Allah SWT.

Semoga kita salah satu dari sekian banyak orang yang mendapatkan naungan Allah SWT di padang masyar kelak.

Sabtu, Mei 18, 2013

Cara Menghormati Bulan Rajab


Ada lima malam yang tidak akan ditolak do'a setiap hamba didalamnya :
  1. Malam pertama bulan Rajab
  2. Malam Nishfu Sya'ban (malam pertengahan atau malam ke-15 bulan Sya'ban
  3. Malam Jum'at
  4. Malam Hari Raya Idul Fitri
  5. Malam Hari Raya Idul Adha (Qurban)
Rasulullah bersabda :
"Siapa yang menyambut kehadiran malam pertama bulan rajab, dengan aktifitas ibadah, seperti shalat malam, baca Al-Qur'an, Dzikir dan lain-lain. Maka hatinya akan hidup, sekalipun umumnya hati manusia mati dan Allah mencurahkan kebaikan dari (fikiran) bawah kepalanya. Dia bersih dari doa seperti baru lahir dari kandungan ibunya dan ia di izinkan mensyafaati 70.000 ahli dosa yang seharusnya dineraka"
Dari Anas bin Malik ra,  Rasulullah bersabda :
"Siapa sholat sunnah di malam bulan Rajab sesudah sholat magrib, setiap roka'at ba'da fatihah membaca surah Al ikhlas (demikian sampai 20 raka'at dibuat 10 kali salam), Makaia dipelihara dirinya, keluarga dan mereka yang menjadi tanggung jawabnya dari mala petaka dunia dan siksa akhirat."
Disebutkan dalam kitab Al-Jami' karya Imam Suyuti, diriwayatkan dari Ibnu Asakir dari Abi Ummah, Berkata Wahab bin Munabbih ra :
"Aku membaca dalam kitab Allah yang diturunkan sebelum Al-Qur'an bertuliskan, bahwa barang siapa yang beristighfar dibulan Rajab di pagi dan sore dengan mengangkat kedua tangannya seraya berkata "Robbigfirli Warhamni Watub Alayya 70 kali, Maka kulitnya tak akan di sentuh oleh api neraka"