Tampilkan postingan dengan label taqwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taqwa. Tampilkan semua postingan

Senin, September 25, 2017

Hindari Ucapan Mu Dari Kata-Kata Kasar

Seorang muslim tidak pernah bersumpah serapah, dan menggunakan bahasa kotor. Seorang muslim berbicara dengan bersahaja dan terhormat.

Salah seorang temanku pernah bercerita :
Ketika dia akan pergi ke masjid, tiba-tiba sebuah mobil hampir menabraknya.
Karena merasa kesal, dia berkata “Ohhh brengs...”Dia bercerita: “Kemudian si pengemudi menghampiriku, bayangkanlah jika dia meninjuku dan aku mati,
Maka itu akan menjadi kata-kata terakhirku.”
Hindari Ucapan Mu Dari Kata-Kata Kasar


Dapatkah kalian bayangkan kata-kata kasar menjadi kata-kata terakhir kalian? Ketika kalian dibangkitkan di hari kiamat, orang-orang yang wafat ketika berhaji akan berkata “Labbaik Allahumma Labbaik”, orang-orang yang membaca Al-Qur’an akan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, tapi kalian disana malah mengucapkan “Ohhh brengsss..." Tentu itu bukan akhir yang baik.

Islam bukan hanya tentang ibadah, berhaji, dan bersedekah. Islam bukan hanya tentang menyembah Allah. Islam juga berarti peduli terhadap hak makhluk Allah yang lain. Dan itu berarti bicara dengan baik, jangan berkata kasar. Karena bicara buruk bukan tanda-tanda orang yang beriman.

Dan banyak orang-orang yang ketika berada dalam perdebatan menggunakan kata-kata kasar. Mereka berkata “Oh, aku sedang mengekspresikan diriku dengan kata-kata itu.” Wow, kau sangat pintar. Apakah tidak ada lagi kata-kata lain, sehingga kau harus berkata kasar untuk mengekspresikan diri?

Dan masalahnya adalah kata-kata macam itu dianggap keren, benarkan?  Orang-orang saling menyombongkan diri dan merasa bangga karena telah menghina orang lain. Mereka berkata “Aku sengaja menghinanya!” Oh, Masya Allah... Sekarang kau telah menjadi pahlawan!

Di hari kiamat, orang-orang menunggu selama 50.000 tahun sampai penghisaban dimulai. Ketika penghisaban dimulai, buku catatan amal mulai diberikan kepada orang-orang. Setiap orang akan mendapatkan buku catatan amalnya.   Jadi kalian mendapatkan buku kalian dan mulai membacanya, di dalamnya tertulis semua amal baik dan buruk kalian!

Kemudian kalian sampai ke suatu bab, yaitu kata-kata kasar. Dan dimulailah,
Lembar demi lembar dari kelakuan kalian yang merasa jagoan.
Sebuah bab yang penuh kata kasar.

Sekarang bayangkan, siapa yang mencatat setiap kali kalian mengucapkan kata-kata kasar?
Para malaikat. Allah menyebut malaikat sebagai Kiraman Katibin,
Makhluk-Nya yang mulia, namun kalian membuat mereka menulis semua kata-kata kasar ini.

Jika kalian berkata baik, perbuatan kalian juga ikut menjadi baik, lidah kalian
punya pengaruh kepada setiap anggota tubuh. Itulah mengapa
Imam Tirmidzi Rahimahullah meriwayatkan dalam sunannya, bahwa setiap pagi,
Setiap anggota tubuh memohon kepada lidah  “Takutlah kepada Allah berkenaan dengan kami, karena kami adalah sebagaimana dirimu. Jika kau lurus,
Maka kami lurus. Jika kau bengkok, maka kami bengkok.”

“Satu ucapan dari lidah saat memfitnah, bagaikan menebas dengan pedang.”

Artinya kerusakan yang diakibatkan tebasan pedang, lidah juga dapat melakukan kerusakan yang sama, jika tidak melebihinya. Itulah mengapa tidak peduli seberapa marahnya kita, saran terbaik dari Allah dan Rasul-Nya SAW adalah mengendalikan diri kita.

Dalam salah satu hadist, Muadz ibn Jabal berkata “Aku berkendara dengan
Rasulullah SAW sampai lututku bersentuhan dengan lututnya, kami berkendara bersama.
Kemudian aku bertanya kepadanya beberapa pertanyaan tentang shalat, sedekah.
Dan iman. Wahai Nabi Allah, katakanlah kepadaku tentang amal baik yang
akan mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka.”

Rasulullah SAW bersabda “Wahai Muadz, sesungguhnya kau telah bertanya tentang sesuatu yang baik. Haruskah aku memberitahumu sesuatu, yang mencakup semua yang kusebutkan?”

Muadz ibn Jabal R.A. berpikir “Tentu saja ya Rasulullah SAW Amal apakah itu?”
Rasulullah SAW dengan jarinya yang mulia, menunjuk ke arah lidahnya dan
berkata kepada Muadz ibn Jabal “Jagalah ini.”

Muadz ibn Jabal R.A. berkata “Wahai Rasulullah, akankah kita dipertanggungjawabkan dan ditanyakan perihal lidah kita?” Dia bertanya karena terkejut.

Rasulullah SAW bersabda “Wahai Muadz, kupikir kau adalah orang yang paling pintar.
Apakah ada sebab yang akan menyebabkan wajah orang-orang terjatuh
ke dalam neraka jahannam, selain apa yang lidah mereka ucapkan?”

Maka dari itu ketika sahabat sahabat rasulullah ketika berbicara kepada kaumNya
sangatlah di jaga dengan baik karna ucapan itu adalah kualitas diri anda

Sekian dari kami semoga bertambah imanNya setelah membaca sedikit ulasan ini
Dan jika ARTIKEL ini bermanfaat silahkan LINK ini di SHARE ke sobat anda kaarna
berbagi sesama makhluk itu sangatlah indah :-)

wassalam :-)


Sabtu, September 23, 2017

Pertolongan Dari ALLAH

Dalam komunitas masyarakat yang ingkar kepada Allah swt., mereka membangun sifat-sifat mereka menurut kekuatan atau status yang mereka miliki. Agar seseorang memiliki rasa percaya diri, ia harus kaya atau terkenal, atau cantik, tampan. Menjadi anak dari orang yang “dihormati” juga menjadi alasan penting agar mendapat rasa percaya diri pada masyarakat yang benar-benar ingkar.
Pertolongan Dari ALLAH

Akan tetapi, berbeda dengan orang yang beriman. Ini dikarenakan orang-orang beriman berlomba-lomba untuk tidak mendapatkan simpati siapa pun kecuali Allah, tidak terpengaruh oleh kriteria-kriteria duniawi yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat.

Allah selalu menolong orang-orang beriman. Dia tidak pernah mengecewakan mereka dalam menghadapi perlawanan orang-orang yang ingkar, “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang...,” (al-Mujaadilah: 21) sehingga para utusan dan para pengikut mereka akan mendapatkan kejayaan dengan dukungan yang besar ini. Allah menjamin, “Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (al-Anfaal: 62)

Jangan lupa bahwa hanya Allahlah yang memperkuat dan memperbaiki orang-orang beriman serta mampu membuat mereka berjaya. Tidak hanya cukup dengan bertumpu pada kekuatan fisik beserta pengaruhnya. Semua itu tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali dengan berdo’a memohon kepada-Nya. Do’a yang diucapkan lebih besar manfaatnya. Sebagai balasannya, Allah mengabulkan keinginan yang dimaksud. Itulah sebabnya mengapa orang beriman harus bersandar pada pertolongan Allah.

Hasilnya, mereka menjadi sedemikian berani dan percaya diri ketika menghadapi dunia. Mereka menjadi sedemikian kuat untuk dipengaruhi oleh tindakan atau pikiran negatif. Musa a.s., yang tidak kehilangan akal ketika penganutnya melampaui batas, berkata, “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Ibrahim: 8)

Musa a.s. percaya diri dan tidak takut karena ia yakin bahwa Allah dan pertolongan-Nya selalu bersama dengan orang-orang beriman. Allah kemudian berfirman kepadanya, “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).” (Thaahaa: 68)
Sikap Musa a.s. harus menjadi contoh bagi orang-orang beriman. Ini karena Allah telah menjanjikan perlindungan dan dukungan tidak hanya kepada Musa a.s. serta para rasul, tetapi juga kepada setiap orang yang memerangi kemungkaran dan membawa mereka kepada kejayaan. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur`an, “... Allah sekali-sekali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (an-Nisaa`: 141)

Orang beriman bertanggung jawab mempertahankan ketaatan mereka kepada Allah dan menjadi hamba-hamba-Nya yang taat. Ketika hal ini terjadi, mereka tidak akan merasa takut.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Maa`idah: 105)

Orang-orang kafir tidak dapat mencelakakan orang-orang yang beriman. Semua rencana dan makar melawan orang-orang beriman akan tidak berguna. Pada ayat berikut, hal ini dijelaskan.

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allahlah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (Ibrahim: 46)

Ketika orang-orang kafir berencana melawan orang-orang beriman, Allah akan “... menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (al-A’raaf: 182) Mereka yakin bahwa mereka lebih tangguh dari orang-orang beriman dan dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Akan tetapi, Allah swt. akan selalu bersama orang-orang beriman; dan kekuatan, kemuliaan, serta kebesaran-Nya menjelma pada diri mereka. Al-Qur`an menjelaskan kebenaran ini, yang tidak dapat dipahami orang-orang munafik.

“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).’ Padahal kepunyaan Allahlah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya, jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.’ Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.’” (al-Munaafiquun: 7-8)

Ini merupakan perintah yang tidak dapat diubah. Orang-orang beriman menurut ayat, “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu,” (an-Nisaa`: 71) harus selalu berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang kafir, namun merasa tenang dengan perintah Allah yang tersebut di atas.
Allah menjelaskan perintah yang sama dalam ayat yang lain,

“Sesungguhnya, orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 32)



Jumat, September 15, 2017

ALLAH ADALAH PENGUASA YANG EKSTRIM DAN MAHA ASIK

Upaya memiliki acapkali membuat manusia berduka dan terluka. Orang-orang yang
Ingkar menghabiskan seluruh hidupnya untuk memiliki benda-benda duniawi.
Mereka selalu berjuang agar dapat memiliki lebih serta menjadikan
hal ini sebagai tujuan dalam hidupnya.

ALLAH ADALAH PENGUASA YANG EKSTRIM DAN MAHA ASIK

Akan tetapi, "berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak,”
(al-Hadiid: 20) merupakan sebuah penipuan karena semua kemilikan
di dunia dikuasai oleh Allah. Manusia hanya membodohi diri mereka sendiri
dengan menyangka bahwa mereka memilikinya. Hal ini karena mereka tidak
menciptakan yang mereka miliki dan mereka pun tidak memiliki kekuatan menjaga
semuanya secara abadi. Ditambah lagi, mereka tidak dapat mencegah kerusakan
yang terjadi. Juga, karena mereka tidak memiliki hak untuk “memiliki”
sesuatu karena mereka termasuk “milik” dari pemilik yang lain. Pemilik
tertinggi ini tidak lain “Raja Manusia” (an-Naas: 2), yaitu Allah. Al-Qur`an
memberitahu kita bahwa seluruh alam adalah milik Allah, “Kepunyaan-Nyalah
semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan
semua yang di bawah tanah.” (Thaahaa: 6) Ayat yang lain memperkuat kepemilikan Allah,
Kekuatan mengampuni atau menghukum, “Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya
Allahlah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang
Dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alah
Maha kuasa atas segala sesuatu.” (al-Maa`idah: 40)

Sebenarnya, Allah memberikan semua kepemilikan kepada manusia sebagai
“titipan” sementara di dunia. Titipan ini akan berakhir pada jangka waktu tertentu
dan ketika tiba hari perhitungan, lalu setiap orang akan diminta pertanggungjawabannya.

Pada hari perhitungan ini, setiap orang akan ditanya tentang maksud dan
tujuannya menggunakan “titipan” ini. Mereka yang menyangka dirinya sebagai pemilik dari “sesuatu” yang dititipkan dan menentang para utusan dengan mengatakan,

apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa
yang disembah oleh bapak-bapak kami” (Huud: 87) mereka layak menerima
hukuman. Al-Qur`an menggambarkan apa yang akan menimpa mereka,

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan
kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan
(yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)

Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, semua anugerah yang diberikan
kepada manusia atas kebaikan-Nya, harus digunakan tanpa “kebakhilan”
Karenanya, daripada mencoba memiliki dan mempertahankan kepemilikan ini,
Sebaiknya seseorang menggunakan kepemilikan ini di jalan Allah seperti yang
diperintahkan. Ini berarti orang-orang beriman dapat menggunakan harta
dalam jumlah yang dibutuhkan untuk biaya hidupnya dan kemudian bersedekah
“yang lebih dari keperluan” (al-Baqarah: 219). Jika ia tidak mengikuti petunjuk dan mencoba “memiliki” semua hartanya, berarti ia memandang dirinya sebagai pemilik. Jatuhnya hukuman bagi sikap seperti ini merupakan suatu kewajaran. Al-Qur`an menjelaskan hal ini,

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak
menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka,
(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas
perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka,
lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta
bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang
(akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (at-Taubah: 34-35)

Ada “perekonomian” dalam Islam, namun tidak ada “penimbunan harta” dalam Islam. Orang-orang berilmu tidak bergantung pada materi yang mereka miliki untuk menghadapi “masa-masa sulit”, melainkan bertawakal hanya kepada Allah, sehingga Allah menambah harta mereka kembali. Allah memberikan lebih dari yang mereka gunakan di jalan-Nya serta merahmati mereka. Hal ini tercatat dalam ayat,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji.
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)

Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan hartanya di jalan Allah adalah orang, “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan.” (al-Humazah: 2-6)



Kamis, September 07, 2017

Ternyata Tumbuhan Juga Bertasbih kepada Allah , Taukah Anda??


Ternyata Tumbuhan Juga Bertasbih kepada Allah , Taukah Anda??
Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah ) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik !!!

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa.

Baca Juga: Inilah BahayaNya Menunda-nunda Sholat Sampai Habis WaktuNya

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!” Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.

Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا


''Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)

Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah) sebagaimana tampak dalam layar.Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara. Subhanallah, Maha suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor.

Baca Juga:Hidup Manusia di Dunia Hanya 1.5 Jam Waktu Akhirat

Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”. Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah.