Tampilkan postingan dengan label BERTAQWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERTAQWA. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 23, 2017

Sejarah peradaban Islam Beserta pengertiannya

Sejarah peradaban Islam Beserta pengertiannya





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
                        Dalam sejarah kebudayaan umat manusia proses tukar-menukar dan interaksi (intermingling) atau pinjam meminjam konsep antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain memang senantiasa terjadi, seperti yang terjadi antara kebudayaan Barat dan peradaban Islam. Dalam proses ini selalu terdapat sikap resistensi dan akseptansi. Namun dalam kondisi dimana suatu kebudayaan itu lebih kuat dibanding yang lain yang tejadi adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah. Istilah Ibn Khaldun, "masyarakat yang ditaklukkan, cenderung meniru budayapenakluknya". Islam menyajikan sistem tolong menolong antarumat dalam lapangan politik, perekonomian, kehidupan sosial, bahkan sistem perdamaian. Islamlah yang mencetuskan sistem perjanjian, konsulat, suaka politik, dan dakwah. Kerja sama dan kontak ekonomi dibolehkan dengan pihak lain, seperti Yahudi,persiadanyunani.
                        Ketika Peradaban Islam menjadi sangat kuat dan dominan pada abad pertengahan, masyarakat Eropa cenderung meniru atau "berkiblat ke Islam". Kini ketika giliran kebudayaan Barat yang kuat dan dominan maka proses peniruan itu juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan Barat dan lemahnya kekuasaan politik Islam, para ilmuwan Muslim belajar berbagai disiplin ilmu termasuk Islam ke Barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena Peradaban Islam dalam kondisi terhegemoni maka kemampuan menfilter konsep-konsep dalam pemikiran dan kebudayaan Barat juga lemah.[1]
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat di peroleh rumusan masalah sebagai berikut:
a.    Apa itu pengertian sejarah?
b.    Apa saja metode dalam sejarah?
c.    Apa saja ilmu dasar dalam sejarah?
d.    Apa saja ilmu bantu sejarah?
e.    Apa manfaat dan urgensi mempelajari SPI?



C.   Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas dapat di peroleh tujuannya adalah sebagai berikut:
a.    Mengetahui pengertian sejarah
b.    Mengetahui metode dalam sejarah
c.    Mengetahui ilmu-ilmu dasar dalam sejarah
d.    Mengetahui ilmi-ilmu bantu dalam sejarah
e.    Dan mengetahui manfaat serta urgensi dalam PSI




BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Sejarah Peradaban Islam.
                        Sejarah berasal dari bahasa Arab “syajaratun” artinya pohon. Dalam dunia barat disebut Histoire (perancis), Historie  (Belanda),  History (Inggris).[2] Berasal dari bahasa Yunani Istoria yang artinya ilmu. Dalam pengertian lain, sejarah adalah catatan berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau (event in the past).[3] Dalam pengertian lebih seksama sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia.

                        Menurut Sidi Gazalba, sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makluk social, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertiandan kepahaman tentang apa yang telah berlalu.[4] Sedangkan Menurut Ibn Khaldum, sejarah ialah menunjuk kepada peristiwa-peristiwa istimewa atau penting pada waktu atau ras tertentu.[5]

                        Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah al-Islamiyah. Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam. “Kebudayaan” dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebgaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata “kebudayaan” dan “peradaban”. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi dan moral, maka peradaban terrefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud.
1.    Wujud Ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan dan lain-lain.
2.    Wujud Kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.    Wujud Benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. Sedangkan istilah peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah.[6]
                        Menurut H.A.R. Gibb, bahwa Islam sesungguhnya lebih dari sekedar agama, Ia adalah peradaban yang sempurna. Karena yang menjadi pokok kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama Islam, kebudayaan yang ditimbulkannya dinamakan kebudayaan atau peradaban Islam
Sedangkan landasan dari pembahasan ini yakni “peradaban Islam” adalah “kebudayaan Islam” terutama wujud idealnya, sementara landasan “kebudayaan Islam” adalah agama Islam. Jadi dalam Islam, tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama-agama bumi, agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari Allah SWT.

B.     Metode Sejarah
                        Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Rekontruksi yang imaginative dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh prose situ disebut historiografi (penulisan Sejarah).[7]
1.    Metode Penggalian sejarah.
a.    Metode lisan (interview) , yaitu dalam pelacakan suatu obyek sejarah dilakukan dengan interview.
b.     Metode Observasi, dalam metode ini obyek sejarah diamati langsung. Jadi metode observasi merupakan metode pengumpulan data, yakni penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indera terhadap kejadian yang dapat langsung ditangkap.[8]
c.    Metode Dokumenter, metode ini berusaha mempelajari secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis.
2.  Metode Penulisan Sejarah.
                        Adapun dalam penulisan sejarah, metode yang dapat digunakan adalah metode
a.    Metode Deskriptif, dengan metode ini digunakan untuk menggambarkan adanya peradaban Islam  tersebut, maksudnya ajaran Islam sebagai agama samawi yang dibawa Nabi Muhammad yang berhubungan dengan peradaban diuraikan sebagaimana adanya dengan tujuan untuk memahami yang terkandung dalam sejarah tersebut.
b.    Metode Komparatif, metode ini merupakan metode yang berusaha membandingankan sebuah perkembangan peradaban Islam dengan peradaban Islam lainya. Dalam metode ini dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam waktu serta tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan tertentu.
c.    Metode Analisis Sintesis, metode ini melihat sosok peradaban Islam lebih kritis, ada analisis bahasan yang lebih luas serta kesimpulan yang spesifik.

C.      Ilmu Dasar Sejarah
                        Untuk memperoleh data yang akurat terkait sejarah dibutuhkan ilmu-ilmu pendukung yang akan memperkuat keberadaan sejarah tersebut. Adapun ilmu tersebut terbagi menjadi : Ilmu-ilmu dasar sejarah (auxillary disciplines) dan Ilmu-ilmu Bantu sejarah (auxillary sciences). Adapun ilmu Bantu sejarah meliputi :
1. paleografi.
                        Adalah pengetahuan mengenai tulisan-tulisan kuno. Melalui paleografi ini dapat diketahui beberapa hal yaitu :
a.    Bentuk tulisan misal tulisan Arab seperti : tumar, nasakhi, tsulus, farisi, magribi, ghubar, diwani dll.
b.    Cara membaca tulisan kuno seperti tulisan mesir pada piramida, tulisan arab sebelum Islam, tulisan Ibrani, tulisan jawa dengan bahasa sansekerta dll.
c.    Kapan dan dimana tulisan itu dibuat, sebab tulisan mengalami perubahan-perubahan, baik karena waktu maupun tempat yang berbeda.


2. Diplomatik
                        Diplomatik adalah suatu cabang pengetahuan yang menyelidiki tanggal, tempat serta keaslihan dokumen-dokumen tertulis.

3. Epigrafi
                        Epigrafi adalah cabang pengetahuan mengenai inskripsi atau tulisan yang terdapat dalam monument, baik mengenai teknik penulisan/pembuatan maupun isi teksnya.

4. Kronologis
                        Kronologis adalah cabang pengetahuan yang membahas tentang masalah kesatuan waktu, seperti kalender Julius (model lama) dan Gregorius (model baru) dalam kalender masehi, tahun hijriyah dalam Islam  (1H = 622 M), tahun saka (1 saka = 78 M). dll

5. Sigilografi
                        Sigilografi adalah pengetahuan mengenai segel yang dipergunakan oleh para raja, khalifah, gubernur, dll. Dengan mengetahui bentuk segel dan cara penggunaanya, maka akan diketahui apakah dokumen tersebut asli atau palsu.

6. Heraldry
                        Heraldry adalah pengetahuan tentang tanda-tanda atau symbol istimewa yang terdapat dalam stempel, baju besi, pakaian para pembesar, pada bendera dan pakaian tentara.

7. Numismatik
                        Numismatic adalah pengetahuan untuk mengadakan klasifikasi dan menguraikan secara deskriptif mengenai mata uang menurut negeri atau zamanya, termasuk didalamnya adalah medali.

8. Genealogi
                        Genealogi adalah pengetahuan tentang asal usul dan silsilah termasuk juga daftar para pembesar dan pegawai. Bangsa Arab sangat mementingkan silsilah ini, sehingga ada buku khusus untuk mencari silsilah.
D.   Ilmu Bantu Sejarah
                        Sejarah peradaban merupakan uraian sistematis dari segala sesuatu yang telah dipikirkan dan dikerjakan dalam lapangan peradaban pada waktu yang telah lampau. Didalam memahami sejarah peradaban tersebut dibutuhkan ilmu Bantu sejarah meliputi
1.    Geografi
                        Peristiwa sejarah memiliki lingkup ruang dan waktu, dalam konteks ruang dimensi geografi sangat penting. Bahkan dalam konteks perluasan wilayah kekuasaan dan penyebaran suatu agama tidak mungkin dapat dijelaskan dengan baik, jika tidak mengetahui geografinya.

2. Sosiologi.
                        Timbulnya dinamika kehidupan berawal dari interaksi seseorang yang terjadi dalam kehidupan antara individu maupun antara golongan. Proses mobilitas social hendaknya berorientasi pada kemaslahatan, baik dunia maupun akherat. Karena mobilitas social berpengaruh pada system peradaban Islam dan kebijakan peradaban Islam yang digunakan pada perkembangan peradaban Islam selanjutnya.

3. Antropologi.
                        Antropologi dan sejarah memiliki obyek kajian yang sama yaitu manusia. Metode dalam antropologi dapat membantu beberapa masalah yang dihadapi oleh sejarawan. Berkaitan dengan peradaban, maka ada sejarah peradaban dan ada pula antropologi budaya. Dalam melakukan kajian sejarah peradaban dapat menggunakan konsep antropologi budaya dalam berbagai aspek yaitu : norma, adat istiadat, tingkat peradaban, gaya hidup dan lain-lain.

4. Arkeologi
                        Arkeologi berbicara tentang warisan masa lampau yang berupa benda, bangunan, dan momentum yang berada dipermukaan tanah. Arkeologi memberikan bahan tentang kurun waktu yang tidak mewariskan bahan tertulis atau kurang tertulis. Dalam konteks ini arkeologi bersifat melengkapi, meskipun hanya bersifat melengkapi, bagi sejarah kebudayaan dan peradaban arkeologi sangat penting keberadaanya. Sebab arkeologi dapat mengungkapkan peradaban materiel masa lampau, seperti pembentukan kota, struktur perumahan, perabot rumah tangga, pakaian, perhiasan, alat kerja, senjata bahkan pengetahuan tentang agama.

5. Ilmu Sejarah.
                        Sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia. Ilmu sejarah dipelajari untuk diambil dari sebuah sejarah, jika ada nilai positifnya dapat dikembangkan dalam kemodernan peradaban, tetapi jika sebaliknya hal yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman dapat dijadikan sebagai pengetahuan.

E.    Manfaat dan Urgensi Mempelajari Sejarah Peradaban Islam
                        Sejarah mencatat kondisi kebesaran Islam berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana pada waktu dunia Islam menjadi kiblat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Sejarah memiliki nilai dan arti penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Hal tersebut dikarenakan sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi perkembangan kehidupan manusia.
                        Dengan mengkaji sejarah, dapat diperoleh informasi tentang aktifitas peradaban Islam dari zaman Rasulullah sampai sekarang, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran, dan kebangkitan kembali agama Islam. Selain itu dengan mempelajari sejarah peradaban Islam diharapkan seseorang dapat memiliki kemauan untuk melakukan pembangunan dan pengembangan peradaban Islam dan dapat pula menyelesaikan problematika peradaban Islam pada masa kini, serta dapat memunculkan sikap positif terhadap berbagai perubahan system peradaban Islam.[9]
            Adapun kegunaannya sebagai berikut:
a.    KegunaanEdukatif
                  Kegunaan sejarah yang pertama adalah sebagai edukatif atau pelajaran. Banyak manusia yang belajar dari sejarah belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan. Pengalaman tidak hanya terbatas pada pengalaman yang dialaminya sendiri, melainkan juga dari generasi sebelumnya.manusia melalui belajar dari sejarah dapat mengembangkan potensinya. Kesalahan pada masa lampau baik kesalahan sendirimaupunoranglain.
b.    KegunaanInspiratif
                  Kegunaan sejarah yang kedua adalah sebagai inspiratif. Berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada pembaca dan pendengarnya. Belajar dari kebangkitan nasional yang dipelopori oleh bedirinya organisasi perjuangan yang modern di awal abad ke-20, masyarakat Indonesia sekarang berusaha mengembangkan kebangkitan nasional ang ke2. Pada kebangkitan nasional yang pertama, bangsa indonesia berusaha merebut kemerdekaan yang sekaranginisudahdirasakanhasilnya.[10]
c.    ManfaatRekreatif.
                  Kegunaan sejarah yang ketiga adalah sebagai kegunaan rekreatif. Kegunaan sejarah sebagai kisah dapat memberi suatu hiburan yang segar, melalui penulisan kisah sejarah yang menarik pembaca dapat terhibur. Gaya penulisan yang hidup dan komunikatif dari beberapa sejarawan terasa mampu “menghipnotis” pembaca. Pembaca akan merasa nyaman membaca tulisan dari sejarawan. Konsekuensi rasa senang dan daya tarik penulisan kisah sejarah tersebut membuat pembaca menjadi senang. Membaca menjadi media hiburan dan rekreatif. Membaca telah menjadi bagian dari kesenangan. Membaca telah dirasakan sebagai suatu kebutuhan, yaitu kebutuhan yang untuk rekreatif.[11]














BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
                        Sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makluk social, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertiandan kepahaman tentang apa yang telah berlalu.
                        Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Untuk memperoleh data yang akurat terkait sejarah dibutuhkan ilmu-ilmu pendukung yang akan memperkuat keberadaan sejarah tersebut.
B.    Saran
                        Diharapkan kepada seluruh mahasiswa pada umumnya. Dan pada mahasiswa/i semester Dua PAI pada khususnya. Agar lebih belajar dengan giat tentang Sejarah Peradaban Islam supaya kita lebih mengenal bagaimana sebuah Peradaban tejadi yang pada makalah ini dititik beratkan pada Sejarah Peradaban Islam Sebagai Ilmu Pengetahuan.



                [1] http://ahmadsamantho.wordpress.com/10/10/2009/sejarah-peradaban-islam-berawal-dari-sains-dan-berakhir-dengan-politik/.
                [2] William H. Frederick dan Soeri Soeroto, 1982, Pemahaman Sejarah Indonesia, Sebelum dan Sesudah Revolusi, Jakarta: LP3ES,hlm.23
                [3] Louis Gottschalk, 1986, Mengerti Sejarah, Jakarta: UI Press,hlm.27
                [4] Sidi gazalba, 1996, Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu, Jakarta: Bharat,hlm. 11
            [5] http://elvanarticle.blogspot.com/15/10/2009/sejarah-peradaban-islam.html
            [6] Azyumardi. 2002. Pendidikan Islam.PT Logos Wacana Ilmu: Jakarta. Hal. 30
                [7] Louis Gottschalk, 1986, Mengerti Sejarah, Jakarta: UI Press,,hlm. 32
            [8] Bimo walgito,1980, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah,Yogyakarta: fak.psikologi, UGM,.hlm.54
                [9] Harun Nasution,1975,Pembaharuandalam Islam; SejarahPemikirandanGerakan, BulanBintang: Jakarta, hlm. 11
                [10] http://hapbiker.wordpress.com/15/10/2009/manfaat-mempelajari-sejarah/
                [11] http://elvanarticle.blogspot.com/15/10/2009/sejarah-peradaban-islam.html

Kamis, September 14, 2017

ALLAH Maha Mengetahui Isi Semua Tentang Hati

Sifat yang paling mendasar dari orang-orang kafir adalah ketidakikhlasan mereka. Mereka tidak ikhlas kepada Allah, orang lain, dan bahkan kepada diri mereka sendiri.
Meski mereka berlaku hangat ketika berhadapan dengan orang lain demi kepentingan mereka, pada saat yang sama mereka merasa benci atau cemburu kepadanya.
Masalahnya, ketidakikhlasan itu terdapat pada diri mereka sendiri. Meskipun
mereka menyaksikan kesalahan dan kejahatan dalam perbuatan mereka dengan jelas,
mereka menyembunyikan kenyataan ini di alam bawah sadar mereka dan berbuat layaknya orang yang benar dan sempurna.
ALLAH Maha Mengetahui Isi Semua Tentang Hati

Ketidakikhlasan ini berasal dari anggapan bahwa tidak seorang pun mengetahui
rahasia di dalam hati mereka, sehingga orang bersalah tersebut dapat berbuat
layaknya mereka yang tidak bersalah meski telah melakukan dosa atau kesalahan.
Sesungguhnya, mereka benar-benar tidak mengetahui apa yang dipikirkan orang lain dan mereka tidak pernah menyadari bahwa Allah mengetahui semua yang dipikirkan dan semua rahasia hati, termasuk pikiran alam bawah sadar yang mereka sendiri tidak mengetahuinya. Allah mencatat fakta ini pada ayat-ayat berikut.

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghaabun: 4)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 13-14)

Tidak seorang pun dapat berbicara tanpa sepengetahuan Allah. Allah mengetahui bukan hanya semua perkataan, melainkan semua pikiran orang, termasuk yang berada di alam bawah sadar, yang sebagiannya tidak mereka sadari. Hal ini ditekankan dalam ayat berikut.

“Tidaklah kamu perhatikan bahwa sesunggunya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerejakan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Mujaadilah: 7)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

Dengan demikian, perilaku orang beriman haruslah benar-benar didasari keikhlasan dan kerendahan hati di hadapan Allah. Karena Allah Yang menciptakan dan mengetahui segala sesuatu, tidaklah mungkin kita berpura-pura di depan-Nya. Seseorang harus mengakui semua kelemahan, kesalahan, dan kekhilafannya, meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, serta meminta pertolongan dan ampunan-Nya.

Para rasul merupakan contoh terbaik dalam keikhlasan mereka kepada Allah.
Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?
” Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (al-Baqarah: 260) Ini merupakan cara bagaimana orang beriman
mengakui kelemahan mereka kepada Allah dan memohon ampunan dari-Nya.
Hal yang sama terjadi ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Musa,
“Pergilah kamu kepada Fir’aun.” Musa berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah
membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”
 (al-Qashash: 33)
Serta memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah. Kejujuran para rasul ini menunjukkan bagaimana orang beriman harus bersikap.

Sebelum seseorang memahami kelemahan dan ketergantungannya kepada Allah, ia tidak dapat memiliki sifat-sifat seperti tabah, rendah hati, beriman, dan berani hanya dengan berpura-pura bersifat demikian, karena “… manusia dijadikan bersifat lemah” (an-Nisaa`: 28) agar mengerti kelemahannya di hadapan Allah. Karena itu, seseorang harus percaya dan berserah diri kepada Allah serta mengungkapkan kesalahan dan dosanya sebelum memohon ampunan.



Rabu, September 13, 2017

Berhati-Hatilah Dan Bertaqwalah Kepada ALLAH

Allah menciptakan alam ini dengan disertai tanda-tanda penciptaan-Nya. Akan tetapi, orang yang mengingkari-Nya tidak dapat memahami kenyataan tersebut karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk “melihat” tujuan penciptaan ini. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an, “... mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah)....” (al-A’raaf: 179) Secara kasat mata, mereka tidak memiliki kearifan dan pemahaman untuk menanggapi kenyataan yang ada ini.
Berhati-Hatilah Dan Bertaqwalah Kepada ALLAH

Orang-orang beriman tidak termasuk kategori “buta” ini. Mereka menyadari dan menerima kenyataan bahwa seluruh alam ini diciptakan Allah swt. dengan tujuan dan maksud tertentu. Keyakinan ini marupakan langkah awal dari keimanan seseorang. Seiring dengan meningkatnya keyakinan dan kearifan, kita akan dapat mengenali setiap detail ciptaan Allah.

Dalam tradisi Islam, ada tiga langkah pemacu keimanan: Ilmul-yaqin (mendapatkan informasi), Ainul-Yaqin (melihat), dan Haqqul-Yaqin (mengalami/merasakan).

Hujan dapat dijadikan contoh dari ketiga langkah ini. Ada tiga tahapan dalam mengetahui tentang turunnya hujan.

Tahap pertama (Ilmul-Yaqin), ketika seorang duduk di dalam rumah yang jendelanya tertutup, kemudian ada yang datang dari luar memberitahukan padanya bahwa hujan turun dan dia memercayainya.

Tahap kedua (Ainul-Yaqin) adalah tahap kesaksian. Orang tersebut menuju jendela, membuka tirai, dan melihat hujan turun.

Tahap ketiga (Haqqul-Yaqin). Dia membuka pintu, keluar rumah, dan berada “di bawah” siraman air hujan.

Berhati-hati adalah bentuk tindakan dari do’a untuk beralih dari tingkatan Ilmul-Yaqin menuju tingkatan Ainul-Yaqin, bahkan lebih.

Upaya melihat tanda-tanda keberadaan Allah dan tidak menjadi “buta” seperti orang yang ingkar, membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Di dalam Al-Qur`an, orang beriman diseru untuk mengamati dan memperhatikan tanda-tanda keberadaan Allah di sekitar mereka dan ini hanya mungkin bisa dilakukan bila dilakukan dengan berhati-hati.

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (al-Waaqi’ah: 63-64)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?” (al-Waaqi’ah: 68-69)

Allah pun menyatakan dalam ayat yang lain bahwa buta tidak sama dengan melihat, kemudian Dia bertanya, “Maka apakah kamu tidak memperhatikan(nya)?” (al-An’aam: 50)

Kita harus melatih diri untuk mengenal tanda-tanda keberadaan Allah dan selalu mengingat-Nya. Bila tidak, pikiran kita akan menyimpang, melompat dari masalah yang satu ke yang lainnya, menghabiskan waktu memikirkan hal yang tidak berguna. Ini merupakan salah satu jenis ketidaksadaran. Kita akan kehilangan kendali pikiran kita ketika kita kehilangan konsentrasi kepada Allah. Kita tidak dapat terpusat pada satu hal, kemudian kita tidak dapat memahami kebenaran di balik materi, kita pun tidak memiliki kemampuan memahami akibat dari tanda-tanda tersebut. Sebaliknya, pikiran kita diarahkan kepada kesesatan. Kita akan mengalami kebingungan sepanjang waktu. Yang demikian itu tidak terjadi pada seorang muslim yang selalu mengingat-Nya, tetapi terjadi pada orang yang ingkar.

''Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (al-Hajj: 31)

Dengan kata lain, orang beriman adalah mereka yang mengarahkan pikirannya lebih baik dalam merasakan keberadaan Allah dan mereka yang berusaha lebih baik dalam menjalankan agamanya. Mereka membebaskan pikirannya dari pemikiran yang sia-sia dan selalu waspada terhadap godaan setan.

“Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 201)

Karena itu, seorang muslim harus menjaga pikiran dari memikirkan hal-hal yang tidak berguna, tidak pernah kehilangan arah dengan kejadian-kejadian di sekitarnya, dan harus selalu menjaga pikirannya

Wallahu A'lam Bis Shawab


Rabu, Maret 18, 2009

MENILAI SEGALA SESUATU DENGAN CARA PANDANG AL-QUR'AN

Orang-orang beriman bertujuan menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya. Manusia tidak diciptakan untuk memenuhi keserakahan atau menuruti hawa nafsunya; satu-satunya alasan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Allah.

Jalan untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menjadikan Al-Qur`an sebagi panduan hidup kita. Kita harus mencurahkan segala perhatian untuk mengamalkan setiap ketentuan Al-Qur`an. Kita harus mengamalkan setiap keputusan Al-Qur`an sebanyak mungkin.

MENILAI SEGALA SESUATU DENGAN CARA PANDANG AL-QUR'AN


Kita tahu dari Al-Qur`an bahwa kewajiban orang-orang beriman tidak hanya berhenti pada ayat-ayat tertentu, seperti shalat, puasa, atau berhaji, tetapi juga penerjemahan dari ibadah itu sendiri. Sebagai contoh, dalam sebuah ayat, orang yang beriman disuruh, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik....” (an-Nahl: 125) Orang-orang beriman memahami “hikmah dan pelajaran yang baik” dengan mengamalkan ajaran Al-Qur`an serta ilmu pengetahuan mereka.

Masih banyak kewajiban lain yang membutuhkan ilmu pengetahuan. Contohnya, Al-Qur`an menjelaskan bermacam-macam kaum dan menginformasikan kepada kita cara memperlakukan kaum tersebut. Apa yang harus diucapkan kepada kaum tersebut, sebagian besar ayat Al-Qur`an dimulai dengan, “Katakanlah....”

Dengan jelas, ayat-ayat Al-Qur`an memberikan gambaran kepada orang beriman tentang cara bersikap. Akan tetapi, jika perintah-perintah ini diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, harus ditafsirkan dengan benar. Pada saat tersebut, ilmu pengetahuan orang-orang beriman sangat membantu.

Al-Qur`an menjelaskan berbagai jenis kaum, seperti kaum muslimin, Kristen, Yahudi, orang munafik, dan penyembah berhala. Kita harus mempelajari ayat-ayat tersebut dengan baik, karena yang seharusnya dilakukan adalah mengenali kaum-kaum ini dalam masyarakat kita kemudian bersikap kepada mereka sesuai dengan perintah-perintah dalam Al-Qur`an. Dengan demikian, kita akan menjadi apa yang Al-Qur`an inginkan.

Lagi pula, orang beriman harus mengenali semua orang di sekitarnya, yang tidak diragukan lagi memiliki satu atau lebih sifat-sifat kaum yang dijelaskan Al-Qur`an. Orang-orang tersebut membentuk masyarakat yang dijelaskan Al-Qur`an dan tiada satu pun yang diciptakan sia-sia,

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (al-Anbiyaa`: 16)

Walaupun demikian, tidak hanya orang-orang di sekitar kita yang dijelaskan dalam Al-Qur`an. Sebenarnya, segala sesuatu yang kita lihat dan semua yang terjadi merupakan pencerminan dari yang tertulis dalam Al-Qur`an,

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur`an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Seluruh alam memiliki tanda-tanda keberadaan Allah, seperti halnya sebuah lukisan yang menghadirkan pelukisnya kepada yang melihatnya. Seluk-beluk lukisan ini menunjukkan sapuan kuas yang jelas; seluruh alam dan seluk-beluk alam ini ada untuk menghadirkan Allah, Pencipta segala sesuatu. Semakin disadarinya kenyataan ini oleh orang beriman, mereka akan semakin mengenali Allah dan bersungguh-sungguh mematuhi semua perintah-Nya. Ketika seseorang memahami kehidupan dengan seluk-beluknya, yang merupakan “tanda” yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, orang tersebut akan menghubungkan segala sesuatu dalam “kehidupan sehari-harinya” dengan nilai-nilai Al-Qur`an.

Segala sesuatu yang mengambil tempat dalam takdir Allah, telah ditentukan dan karenanya memiliki tujuan. Yang harus dilakukan oleh orang beriman adalah menafsirkan setiap kejadian dalam cahaya Al-Qur`an, yaitu bertindak sesuai dengan jalan yang telah dijelaskan Al-Qur`an. Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan sesuatu yang sia-sia dan bersifat kemalasan, orang beriman harus mengabaikannya, karena diciptakannya sesuatu yang sia-sia itu agar orang beriman tidak mengindahkannya. Orang beriman harus menerjemahkan segala sesuatu menurut cara pandang Al-Qur`an. Dengan demikian, mereka harus membangun budaya dan karakter mereka dalam bingkai Al-Qur`an, sebagaimana perintah Allah untuk mencapai kondisi ini, yaitu mereka harus meninggalkan semua yang mereka peroleh dari masyarakat dan kebodohan mereka yang lampau. Mereka harus memutuskan apa yang seharusnya dilakukan pada setiap situasi dengan bergantung pada penafsiran dan logika Al-Qur`an, karena ayat-ayat Allah menunjukkan kepada mereka cara mengatasi setiap situasi. Hal ini sebagaimana yang dikatakan dalam Al-Qur`an bahwa telah diturunkan kepada kita sebuah kitab “untuk menjelaskan segala sesuatu” (an-Nahl: 89).